Sulawesi Selatan Inspirasi Indonesia

Menyaksikan tanyangan langsung pemilihan calon pimpinan KPK dari gedung DPR RI disebuah Lembaga Penyiaran Swasta Televisi merupakan sebuah sensasi yang berbeda. Putra Sulsel akhirnya ditetapkan secara mutlak oleh komisi III DPR RI sebagai pimpinan KPK. Dunia penyiaran (broadcasting) merupakan ranah yang memiliki korelasi erat  dengan perkembangan teknologi, seberapa pesat kemajuan sebuah daerah dapat dinilai dari seberapa banyak informasi yang dapat diakses dengan mudah di daerah tersebut. Hal ini sudah menjadi hukum informasi sejak jaman Laswell mengungkapkan teori komunikasi hingga kini. Media penyiaran merupakan sebuah indikator terhadap hal tersebut.

Sulsel sebagai center point of Indonesia pastilah menjadi salah satu barometer perkembangan teknologi media penyiaran. Saat ini saja terkhusus di kota Makassar kanal (frekuensi free to air) telah habis terbagi kepada seluruh pelaku investasi media penyiaran, baik radio maupun televisi.  Radio dengan jumlah 26 kanal (2 diantaranya lembaga penyiaran kominitas) dan televisi 15 kanal telah menjejali udara frekuensi.  Saat kita berkendaraan mengelilingi Sulsel nyaris di setiap kabupaten kota kita dapat mendengarkan radio lokal dari daerah masing-masing. Informasi sebagai wilayah bisnis media yang menjanjikan telah digarap serius para investor. Dengan beragam contentdan kepemilikan yang memang telah diatur dalam UU 32/2002 menjadikan banyaknya pilihan-pilihan dalam memperoleh informasi.

Setiap perkembangan memiliki konsekuensi terhadap perubahan perilaku masyarakat. Terkhusus pada bidang penyiaran, perkembangan menjadi perhatian Lembaga Negara Independen yang dibentuk sesuai amanah UU 32/2002 Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Sulsel. Pada periode ke 3 ini, lebih  menitikberatkan pada kualitas tayangan lokal, sebagai penyedia informasi masyarakat. Sumber daya manusia yang mengelola informasi harus memiliki kompentensi dan keterampilan yang memadai.  Hal ini menjadi penting untuk menjamin mutu tayangan yang memiliki nilai yang bermanfaat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebagai sebuah konsistensi, banyak hal yang menjadikan KPID Sulsel sebagai pioneerdalam merumuskan aktifitas-aktifitas yang menunjang sehatnya informasi dari media penyiaran. Sebutlah KPID Award, program ini telah dirumuskan oleh para komisioner KPID Sulsel periode pertama, tahun ini adalah penyelenggaran keempat, ini dijadikan sebagai bentuk apresiasi kepada lembaga penyiaran dalam menghasilkan program yang konsisten dan memilikicommitmentterhadap standar program siaran (SPS). Program ini telah diadopsi oleh sebagian besar KPID yang berada di Propinsi lain, bahkan secara nasional pun KPID Pusat telah menyelenggarakannya sebagai program tahunan.

Gerakan produksi sehat (Gesit) merupakan progam KPID Sulsel yang baru saja di luncurkan, walaupun program ini telah dirumuskan sejak KPID Sulsel periode ke dua. Gesit merupakan sebuah bentuk apresiasi kepada pelaku atau praktisi di media penyiaran untuk lebih meningkatkan keterampilan dan wawasan sebagai ujung tombak pengelola informasi kepada masyarakat. Program ini diharapkan akan menghasilkan beberapa kriteria standar terhadap pengelolaan media penyiaran yang telah memiliki ijin pengelolaan penyiaran (IPP). Hal ini diharapkan akan dapat melindungi masyarakat dari informasi atau tayangan yang tidak sehat serta mengawali kepentingan praktisi penyiaran agar dapat bekerja secara profesional dibidangnya masing-masing. Tentu program ini akan berkorelasi dengan program gerakan menonton sehat (Gemes) yang telah diluncurkan terlebih dahulu.

Tidak berlebihan rasanya walaupun secara perkembangan teknologi siaran Propinsi Sulawesi Selatan agak tertinggal tetapi dalam hal konsep penyiaran dan perilaku terhadap para stakeholderpenyiaran di Sulsel dijadikan inspirasi oleh seluruh Indonesia. Pada tahun pertama periode KPID Sulsel ketiga ini saja sudah hampir seluruh pulau di Indonesia melakukan kunjungan kerja terhadap program-program KPID Sulsel.  Khususnya pada lembaga penyiaran televisi, Sulawesi Selatan merupakan titik perhatian utama investor baik nasional maupun lokal untuk berkiprah dalam dunia penyiaran. Penekanan yang tak luput dari perhatian KPID Sulsel terhadap lembaga penyiaran swasta televisi adalah memacu kualitas tayangan lokal tehadap pencitraan propinsi ini secara positif. Banyak prestasi yang telah ditorehkan oleh propinsi kita yang belum tercoversecara apik dalam tayangan-tayangan industri media penyiaran, hal ini akan lebih memperkaya atau menjadi pelajaran berharga untuk daerah lain pada persoalan yang serupa. 

Prestasi lain KPID Sulsel  adalah pada Bidang Perijinan bersama Komisi A DPRD Sulsel  telah merumuskan Perda TV Kabel. Perda ini merupakan Perda inisiatif dari komisi A DPRD Sulsel sebagai leadingsectorKPID Sulsel. Peraturan yang boleh dikatakan sebuah antisipasi yang strategis dalam mengontrol pertumbuhan TV Kabel yang belakangan ini sangat luar biasa pesat. Ini pun menjadi sebuah kejutan baru buat daerah lain yang baru memulai melakukan penataan terhadap  TV Kabel di daerahnya. Secara kuantitas dan kualitas Lembaga penyaiaran berlangganan (LPB) melalui kabel di propinsi Sulawesi Selatan memiliki operator yang berjumlah ratusan. Dalam proses penataannya KPID ditahun 2011 bersama dengan Kementrian Infokom dan KPI Pusat telah menerbitkan IPP prinsip kepada 19 LPB melalui kabel di beberapa kabupaten.Tentu saja semua prestasi ini menjadi sebuah harapan yang terhampar luas di depan mata masyarakat Sulawesi Selatan yang  tak hanya menjadi sebuah pelengkap dalam sebuah negara, tetapi telah dapat menginspirasi Indonesia ke arah yang lebih baik. Sebuah perubahan akan sangat baik bila dikabarkan dengan baik, tentu dengan menggunakan media yang baik pula.

MAKASSAR, NOVEMBER 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *